Memasuki Perimenopause? Ini yang Perlu Anda Persiapkan Menurut dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG
Menopause sering dianggap satu momen: saat haid berhenti. Kenyataannya, tubuh perempuan melewati masa transisi bertahun-tahun sebelum titik itu. Masa ini disebut perimenopause, dan semakin cepat Anda mengenalinya, semakin baik Anda bisa mempersiapkan diri.
dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG, dokter kandungan yang aktif mengedukasi perempuan Indonesia soal peri/menopause, menekankan satu hal: perimenopause adalah fase wajar dalam hidup perempuan, bukan akhir dari masa terbaiknya. Artikel ini merangkum pandangan beliau dari berbagai forum publik, dilengkapi panduan praktis tentang apa saja yang perlu Anda siapkan.
Apa itu perimenopause?
Menurut dr. Dinda, perjalanan hormonal perempuan bisa dipahami dalam empat tahap:
- Pre-menopause— masa reproduksi, hormon relatif stabil.
- Perimenopause— hormon mulai berfluktuasi dan menurun menjelang menopause.
- Menopause— ditetapkan setelah 12 bulan berturut-turut tanpa haid.
- Post-menopause— fase setelah menopause.
Tiga hormon yang ikut berubah adalah estrogen, progesteron, dan testosteron. Penyebabnya alami: cadangan sel telur di ovarium terus berkurang sejak lahir, sehingga produksi hormon ovarium ikut menurun.
Poin penting yang sering disalahpahami: jika haid sempat berhenti beberapa bulan lalu muncul lagi, Anda belummenopause. Anda masih berada di fase perimenopause.
Perimenopause umumnya dimulai di usia 40-an, meski pada sebagian perempuan bisa lebih awal. Lamanya berbeda-beda, dari beberapa tahun hingga lebih dari satu dekade.
Gejala perimenopause: kenapa tiap perempuan berbeda?
Estrogen bekerja di banyak organ: otak, jantung, kulit, sendi, otot, hingga saluran kemih. Karena itu, dr. Dinda menjelaskan bahwa turunnya hormon ini bisa terasa di hampir seluruh tubuh.
Gejala yang sering dilaporkan antara lain:
- Siklus haid berubah: lebih pendek, lebih panjang, lebih banyak, atau lebih sedikit
- Hot flashes (rasa panas tiba-tiba) dan keringat malam
- Jantung berdebar
- Susah tidur
- Suasana hati naik-turun, mudah cemas atau tersinggung
- Mata dan kulit lebih kering, nyeri sendi
- Vagina kering atau nyeri saat berhubungan
- Sulit fokus atau sering lupa ( brain fog)
dr. Dinda mengibaratkan perimenopause seperti PMS atau baby blues: ada yang merasakannya sangat berat, ada yang nyaris tidak terasa. Jadi, jangan membandingkan pengalaman Anda dengan orang lain. Keluhan yang ringan bagi teman bisa sangat mengganggu bagi Anda, dan itu tetap layak diperiksakan.
Bagaimana dokter memastikan Anda sedang perimenopause?
Tidak ada satu tes tunggal yang langsung memastikan perimenopause. Dokter menilai tiga hal bersamaan: pola haid, gejala yang Anda alami, dan pemeriksaan penunjang bila diperlukan.
Salah satu pemeriksaan yang disebut dr. Dinda adalah kadar FSH( follicle-stimulating hormone), hormon yang merangsang ovarium mematangkan sel telur. FSH bisa membantu membedakan perimenopause awal dan lanjut. Pada fase lanjut, FSH cenderung naik, sementara estrogen masih bisa naik-turun.
Karena hormon berfluktuasi, satu hasil lab tidak bisa dibaca sendirian. Hasilnya perlu ditafsirkan bersama keluhan dan riwayat Anda oleh dokter. Tujuannya bukan mencari "yang salah", tetapi memahami apa yang sedang terjadi pada tubuh Anda.
7 hal yang perlu Anda persiapkan saat memasuki perimenopause
1. Mulai dari gaya hidup.Prinsip dr. Dinda sederhana: "Kita modifikasi dari lifestyledulu." Perhatikan pola makan, kadar gula darah, aktivitas fisik, dan kebiasaan harian. Menurut beliau, perempuan dengan kondisi metabolik yang kurang baik cenderung mengalami keluhan perimenopause yang lebih berat.
2. Prioritaskan latihan kekuatan.Di fase ini, tujuan olahraga bukan sekadar membakar kalori. dr. Dinda menyarankan lebih banyak strength traininguntuk menjaga dan membangun massa otot, karena metabolisme ikut melambat seiring usia. Kardio tetap penting untuk kesehatan jantung dan kebugaran, jadi kombinasikan keduanya.
3. Catat siklus dan gejala Anda.Tulis tanggal haid, banyaknya perdarahan, kualitas tidur, dan perubahan suasana hati. Catatan 2–3 bulan sangat membantu dokter membaca pola perimenopause Anda.
4. Lakukan pemeriksaan kesehatan dasar.Dokter dapat menyarankan pemeriksaan sesuai usia dan riwayat Anda, misalnya:
- Hormon (termasuk FSH) bila diperlukan
- Gula darah dan profil lemak (kolesterol)
- Tekanan darah
- Skrining kanker serviks (Pap smear/tes HPV) dan pemeriksaan payudara
- Kepadatan tulang, bila ada faktor risiko osteoporosis
5. Tetap gunakan kontrasepsi bila belum ingin hamil.Kesuburan memang menurun, tetapi selama haid belum berhenti 12 bulan, kehamilan masih mungkin terjadi. Diskusikan metode KB yang sesuai dengan dokter kandungan.
6. Kenali pilihan penanganan, termasuk terapi hormon.Untuk keluhan yang mengganggu, ada beberapa pilihan: penyesuaian gaya hidup, terapi hormon menopause (MHT/HRT), dan terapi non-hormonal. dr. Dinda aktif mengedukasi soal MHT/HRT, namun kecocokannya sangat individual. Keputusan perlu diambil bersama dokter setelah menimbang manfaat, risiko, dan riwayat kesehatan Anda.
7. Jaga kesehatan mental dan cari dukungan.Perubahan hormon bisa memengaruhi emosi. dr. Dinda juga menyoroti tekanan sosial yang membuat perempuan takut menua. Berbicara dengan pasangan, teman, komunitas, atau tenaga profesional membuat fase ini tidak perlu dilalui sendirian.
Kapan harus segera ke dokter kandungan?
Perubahan haid saat perimenopause memang wajar, tetapi beberapa tanda perlu diperiksakan segera:
- Perdarahan sangat banyak (ganti pembalut tiap 1–2 jam) atau berlangsung lebih dari 7 hari
- Haid datang lebih sering dari 21 hari sekali
- Perdarahan di antara dua siklus haid atau setelah berhubungan
- Perdarahan apa pun setelah 12 bulan tidak haid
- Gejala mirip perimenopause sebelum usia 40 tahun
- Keluhan tidur, suasana hati, atau hot flashes yang mengganggu pekerjaan dan hubungan
Keluhan ringan pun layak dikonsultasikan. Pemeriksaan lebih awal memberi Anda waktu untuk menyiapkan strategi, bukan sekadar bereaksi saat gejala sudah berat.
Konsultasi perimenopause bersama dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG di First Care Panglima Polim
Perimenopause bukan sesuatu yang harus Anda tebak-tebak sendiri. Di First Care Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Anda bisa berkonsultasi langsung dengan dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG.
dr. Dinda adalah dokter spesialis obstetri dan ginekologi lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, anggota POGI, dan Chief Medical Officer Magnolia Collective Wellness Indonesia, organisasi yang berfokus pada layanan peri/menopause. Beliau dikenal dengan pendekatan yang personal, holistik, dan berbasis bukti.
- Membahas gejala dan pola haid Anda
- Mendapat rekomendasi pemeriksaan yang sesuai, termasuk FSH bila perlu
- Menyusun rencana gaya hidup, nutrisi, dan olahraga yang realistis
- Mendiskusikan pilihan penanganan, termasuk terapi hormon menopause
- Berkonsultasi soal kontrasepsi di usia 40-an
Praktik dr. Dinda berdasarkan perjanjian. Hubungi tim kami untuk jadwal terbaru.
Referensi
- Dewi Magazine (5 Sep 2026). Mengenali Perimenopause bersama Sahabat Kian: Saatnya Lebih Peka pada Perubahan Tubuh — talkshow dengan dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG
- Magnolia Collective Wellness. Events: perimenopause & menopause bersama dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG
- dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG (@tanyadokdin), Instagram
- First Care Clinic. Profil dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG
- Şahin NH, Kharbouch SB (2007). Perimenopausal contraception in Turkish women. BMC Nursing — kebutuhan kontrasepsi di masa perimenopause
FAQ seputar perimenopause
Perimenopause biasanya mulai usia berapa?Umumnya di usia 40-an, tetapi bisa dimulai lebih awal pada sebagian perempuan. Gejala mirip perimenopause sebelum usia 40 tahun perlu diperiksakan ke dokter kandungan.
Berapa lama fase perimenopause berlangsung?Berbeda pada setiap perempuan, dari beberapa tahun hingga lebih dari 10 tahun. Fase ini berakhir saat Anda sudah 12 bulan berturut-turut tidak haid.
Apa bedanya perimenopause dan menopause?Perimenopause adalah masa transisi saat hormon mulai naik-turun dan menurun. Menopause baru ditetapkan setelah 12 bulan berturut-turut tanpa haid.
Apakah masih bisa hamil saat perimenopause?Masih bisa. Kesuburan menurun, tetapi ovulasi masih mungkin terjadi. Gunakan kontrasepsi bila belum ingin hamil sampai dokter menyatakan Anda sudah menopause.
Apakah cek FSH bisa memastikan perimenopause?FSH membantu membaca tahap perimenopause, tetapi tidak bisa berdiri sendiri. Kadarnya naik-turun, sehingga dokter menilainya bersama pola haid dan gejala Anda.
Olahraga apa yang paling dianjurkan saat perimenopause?dr. Dinda menganjurkan lebih banyak latihan kekuatan ( strength training) untuk menjaga massa otot dan metabolisme, dikombinasikan dengan kardio untuk kesehatan jantung.
Apakah semua perempuan perlu terapi hormon?Tidak. Terapi hormon menopause dipertimbangkan bila gejala mengganggu kualitas hidup, setelah dokter menilai manfaat dan risikonya untuk Anda. Banyak perempuan cukup terbantu dengan perubahan gaya hidup.
Di mana konsultasi perimenopausedi Jakarta Selatan?Anda dapat berkonsultasi dengan dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG di First Care Panglima Polim, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Reservasi melalui WhatsApp 0812-6677-7665.